Aku Akan Mengingatmu

Tags

Aku Akan Mengingatmu
: Nicky & Maman

Maka, ijinkan aku untuk mengingatmu
sebagai suar
yang bersinar senantiasa di dalam dada
menjadi debar kabar paling gembira
penanda arah bagi perahuku yang berlayar

Lalu, ijinkan aku untuk mengingatmu
sebagai dermaga
tempat paling teduh kutambatkan sauh
saat perjalanan benar-benar melelahkan
nanti aku labuhkan rindu di hatimu itu

selamanya

 

2013

Advertisements

Perihal Ketiadaan – Sajak Cholifah Ariestiani

 

Perihal Ketiadaan

Tempuhlah kebisuan yang mendekam dibalik detak jam pada pukul sebelas malam. Jarumnya akan membawamu pada ingatan-ingatan yang terus saja membuat matamu seperti langit bulan Juni, basah. Teruslah saja meratap pada dinding kamar yang bisu dan dingin. Seolah kau adalah makhluk sepi kehilangan segala. Karena kau buta bahkan untuk melihat siapa saja yang setia berdiri di belakangmu. Kau membaca, perlahan dan syahdu tentang tulisan-tulisan bernama kenang. Kau sadar bahwa yang kau lakukan itu serupa mengiris bawang yang membuat matamu perih kemudian berair. Kau bahkan tak tahu bukan apa yang membuatmu menyesal. Kepedulian yang begitu kau yakini lantas jadi tali temali saling mengikat dan menyakiti. Atau kekecewaan yang begitu dalam seperti menabur garam pada luka. Ah, akui saja mentalmu tak cukup kuat untuk menanggung sebuah kehilangan. Sadar saja bahwa saat ini yang memelukmu adalah ketiadaan nyata. Tak ada sesiapa. Maka balaslah pelukannya, rengkuh dirimu sendiri. Kau tahu, yang perlu kau lakukan adalah diam sejenak, menikmati sejuk hujan malam hari dari balik jendela, membuka semua mata dan memberi senyum kepada kenangan.

Smg, 250713

 

 

PUISI HASAN ASPAHANI

Obat kerinduan. Sangat!

Kumpulan Puisi Kompas

Aku Sudah Tidak Lagi Bertanya

 

AKU sudah tak lagi bertanya, lewat dari tapal berapa

kapas kata dari ikatan pantun, tualang menjadi tapa,

 

Aku pejalan rambang, menggadang karena rumah radang,

Aku sudah tak lagi bertanya, berapa bayang tumbang.

 

 

Pengumuman Orang Hilang

 

RADIO itu kepalaku sendiri. Yang akhirnya berhenti pada satu

frekuensi, yang terus-menerus memutar ulang hal sama: pengantar

akhir siaran.

 

Aku seperti memutar kenop frekuensi radio, mencari entah siaran

apa yang sedang ingin kudengar. Mungkin pengumuman seseorang

yang hilang.

 

 

Raung Kaca, Ruang Baca

 

NANTI aku ke sana sebagai pemelesir, terusir.

 

Mencari buku yang hilang, atau yang belum ada.

Itu sebab aku mampu sepura hati, berpura-pura.

 

Itu seperti danau, berparas kaca, bayangku

meraung di sana, aku yang hanya sanggup gugup,

tentu tak mendengarnya: mencemaskan pangkalan

ditelan pisang, tak bisa berhenti, pusang hati.

 

Nanti aku ke sana sebagai pemburu, dengan pemuras,

View original post 89 more words

Mungkin,

iya, mungkin memang hanya mungkin ~

Membaca Rindu

Mungkin, tertawa adalah perihal membahagiakan semenjak kita dan tubuh pulang dan bersatu. Menjadi semacam baris-baris kata atau kita pernah saling menenggelamkan rasa di titik paling indah. Atau kita akan saling mengayuh, membaca rasa menjadi semacam bahagia yang sulit kita jelmakan pada tubuh-tubuh rapuh, resah dan gelisah di sepanjang catatan harian kita sendiri. Atau kita akan mulai merasa sepi, menjadi paling senyap sepanjang jejak perjalanan ini memuat lebih banyak perihal indah tentang kita nantinya. Dan tawa, selalu menjadi rahasia paling indah semenjak kita ingin saling menyatu dan melepas segala rasa karena ruang dan waktu yang selalu memisahkan kita.

Mungkin, canda adalah perihal paling seru ketika waktu dan sejumlah pertanyaan kembali kau ulang dan terjemahkan bersama di sepanjang perjalanan penuh tanda. Waktu telah merahasiakan caranya untuk tetap bisa kita pahami hingga pada jejak-jejak selanjutnya kita akan mengirim lebih banyak doa dan merapalkannya semenjak tubuh-tubuh bongkar itu pulang dan mendadak ingin dilupakan semenjak…

View original post 348 more words

Merentang Pelukan

this! like this!

Faraziyya's Bookshelf

Beruntung sekali mendapat buku ini secara gratis dari salah satu kontributor himpunan puisi ini. Thanks Mas Ungu :-). Tentang bersajak, berpuisi, berprosa, sungguh pengetahuanku sedikit sekali. Maka sepertinya pesan dari pemberi buku ini salah.

To: Ziyy

Terus Bersajak, ya!

-Toffan Ariefiadi

Karena pengetahuanku sedikit sekali, apalagi tentang menginterpretasi kata frasa berbunga yang menciri pada puisi. Tapi aku sendiri salut kepada mereka yang mencintai dan berekspresi melalui puisi. Mengapa? Karena aku menganggap bahwa mereka adalah orang-orang yang hebat. Yang mampu memampatkan apa yang ingin mereka sampaikan dalam kata frasa yang selalu tidak banyak. Yang mampu memunculkan diksi-diksi yang tidak familiar tetapi begitu indah melihatnya menyelip dalam puisi yang dibuat. Apakah dalam kepribadian, mereka juga termasuk yang tidak berbasa-basi?

View original post 440 more words

Quote

Sebagai Pintu…..

Sebagai Pintu…

sebagai pintu, akulah yg memilihkan tamu-tamu yg mendatangi rumahmu. lalu jika ada luka, kau dgn mudahnya mengibaskan tubuhku teramat keras. tapi aku tetap setia. berdiam dimuka. membuka dan menutup begitu saja. sampai kau punya kisah dan mengakhirinya dgn tubuhku yg patah. – Galih Pandu Adi, 2013