: ibuku

Biasanya bulan-bulan pertengahan tahun seperti sekarang, panas yang menyengat kulit adalah teman karib bagiku. Bisa dibilang jarang sekali aku melihat di langit sana matahari dan awan akur. Hari ini mereka asyik sekali bermain kejar-kejaran di langit sana. Saling menyusul. Saling berarak. Kadang matahari di depan awan dan terkadang awanlah yang di depan. Ah, bikin aku iri saja. Dan tentu saja kerjasama mereka kali ini –aku lebih suka menyebut ini dengan kerjasama matahari dan awan– mampu menghasilkan hawa yang sejuk siang hari ini.

Tiba-tiba saja aku merasa lapar. Ah iya, seharian aku belum makan. Terlalu masyuk aku melihat matahari dan awan bermain kejar-kejaran. Kalau sudah lapar begini aku jadi ingat ibu.

Sewaktu aku kecil, ada saja makanan atau minuman yang ibu buatkan untukku.

Pagi hari sebelum berangkat ke sekolah ibu selalu membuatkanku sepiring telur dadar. Bukan telur dadar seperti buatan orang-orang biasa yang hanya menambahkan irisan bawang merah dan potongan cabai merah. Atau bila ingin, ditambahkan kecap dan saus. Bukan. Telur dadar buatan ibu lain. Ibu meraciknya dengan semangat pantang menyerah yang ditularkan melalui telur dadar buatannya.

Aku sangat suka sarapan di pagi hari hari, karena aku tahu kalau sarapan itu penting untuk proses berpikir. Namun, setiap kusantap telur dadar buatan ibu, ada sesuatu yang lain yang perlahan meresap dalam sanubari. Ada hawa hangat yang secara tiba-tiba mengaliri tubuhku. Aku seakan mendapatkan tenaga tambahan di pagi hari. Bukan hanya untuk proses berpikir dan mencerna pelajaran namun juga membuatku lebih semangat menuntut ilmu di sekolah.

Pernah suatu ketika aku merasa sangat marah dengan teman-temanku. Lalu, ibu membuatkan pudding cokelat untukku. Entah kenapa marahku tiba-tiba saja reda. Dan jadilah setiap aku merasa marah dan jengkel, ibu selalu membuatkanku pudding cokelat.

Meski aku tidak pernah bercerita padanya, ibu selalu tahu kalau aku sedang marah. Mungkin sudah naluri setiap ibu, pikirku. Dan tentu saja akan ada pudding cokelat yang lembut. Ibu akan membuatnya dengan kelembutan seorang ibu. Pudding paling lezat yang pernah kumakan seumur hidupku. Pudding buatan ibu tidak hanya lembut saja namun juga melembutkan. Rasa marahku saat itu biasanya akan langsung reda. Hatiku yang keras pun akan melembut seketika.

Ibu lalu akan membuatkanku jus alpokat dengan campuran susu cokelat jika pudding cokelat tadi tidak cukup berhasil meredakan amarahku. Dan yang satu ini sudah pasti berhasil. Kalian pasti tidak percaya bukan, jika jus alpokat dengan campuran susu cokelat buatan ibuku bisa mendinginkan segala sesuatu bahkan api yang bara sekalipun? Aku yakin itu.

Jika aku kelelahan karena bermain seharian. Ibu akan membuatkan sayur sop dan ayam goreng. Ini bukan sayur sop biasa dengan campuran bunga kol, potongan wortel, irisan kentang kotak-kotak, butiran-butiran makaroni, sayatan daging ayam, dan sayur-mayur yang lain. Namun, sayur sop buatan ibu begitu istimewa. Ibu menyajikan dengan cinta dan kasih seorang ibu. Setiap satu suap sop yang masuk ke lambungku, satu belaian lembut kasih ibulah yang kurasakan. Ada pijatan-pijatan yang merilekskan otot-ototku karena bermain seharian. Aku sangat suka sayur sop buatan ibu. Meskipun aku harus menghabiskan satu panci sayur sop sendiri. Kalian tahu kenapa? Karena aku ingin selalu kenyang belaian lembut kasih ibu.

Selain matahari dan awan, aku juga menyukai hujan. Kanak-kanak seusiaku dulu selalu suka hujan. Bila hujan datang hatiku pasti riang. Karena aku bisa bermain dengan hujan. Mendengarkan nyanyian merdu hujan di atas genting. Bersenandung bersama tetesan air hujan yang jatuh ke ranting. Tik tik tik, bunyi hujan di atas genting, airnya turun tidak terkira, cobalah tengok dahan dan ranting, pohon dan kebun basah semua…

Dan dari balik jendela rumah, ibu akan memanggilku dengan suaranya yang paling indah sedunia, “Fan, berhentilah bermain dengan hujan. Masuklah. Lekas mandi dan ganti bajumu. Ibu sudah buatkan jahe merah hangat untukmu”.

Jahe merah. Minuman kesehatan itu akan menghangatkan tubuhku sehabis bermain hujan. Percayalah, aku akan tahan bermain hujan seharian jika sudah minum jahe merah hangat buatan ibu. Karena ibu membuatnya dengan hangat doa untukku. Sekarang pun aku masih suka bermain hujan.

Datangnya malam berarti kegelapan. Sebagian besar anak kecil takut akan gelap. Bahkan orang dewasa pun kadang takut dengan kegelapan. Teman-te
man sering bercerita padaku bahwa malam adalah waktunya hantu-hantu berkeliaran. Mereka takut untuk bermain di luar rumah. “Takut diculik hantu” kata sebagian teman-temanku. “Lebih baik tidur cepat daripada bermain” sambung teman yang lain.

Tapi tidak bagiku. Malam adalah waktu yang menyenangkan. Aku sangat menikmati malam. Aku tidak perduli dengan cerita teman-temanku tentang hantu karena ada hal yang lebih menarik dari itu semua: dongeng sebelum tidur ibuku.

Kalian pasti sekali lagi tidak percaya padaku jika kukatakan ibu mendongeng bukan dengan bercerita, tapi dengan segelas susu cokelat hangat. Ya, hanya dengan segelas susu cokelat hangat. Percayalah.

Dalam segelas susu itu ada dongengan-dongengan ibu tentang pangeran yang dengan gagah berani mempertahankan rakyatnya dari serangan musuh, tentang puteri yang sangat cantik dan berhati mulia yang setiap hari selalu berderma, juga tentang anak yang sangat berbakti kepada orangtuanya dan menjadi pejabat yang jujur saat dewasa, dan banyak dongengan yang lain. Setiap teguk susu setiap dongengan bercerita kepadaku dengan sendirinya.

Ah, hari sudah semakin sore ternyata. Langit yang memerah senja sudah mulai menggantikan awan dan matahari yang terlihat lelah bermain kejar-kejaran. Sebelum awan dan matahari benar-benar pergi berganti senja, aku ingin memotong mereka dan memberikannya untuk ibu.

Sebenarnya aku ingin sekali memberikan sepotong senja untuk ibu, tapi senja itu sudah terlebih dulu dipotong oleh sukab dan diberikan kepada alina, pacarnya. Kalian pasti tahu siapa sukab kan? Jadilah, kuberikan sepotong awan dan matahari untuk ibu. Mungkin tak akan bisa membalas semua yang telah diberikan ibu untukku, termasuk makanan dan minuman buatan ibu. Tapi, semoga saja awan dan matahari ini akan memberikan sejuk di hati ibu. Selalu.

Kini setelah dewasa, selain matahari dan awan serta hujan, aku juga suka membaca cerita. Dan saat aku membaca cerita ditemani awan dan matahari selepas hujan turun, aku selalu merasa lapar. Dan kalau sudah lapar, aku selalu ingat ibu.

.::00.25.TigaPuluhSatuOktoberDuaRibuDelapan::.

Cerita ini untuk ibuku yang berulang tahun tanggal DuaPuluhDelapanOktober kemarin. Selamat ulang tahun ibu. Semoga Allah memberkahimu selalu. 🙂

*Seno Gumira Ajidarma (sukab) menulis cerita dengan judul sepotong senja untuk pacarku.