: may


Udara dingin petang ini setelah hujan sore tadi tidak juga membuat perasaannya menjadi dingin. Emosinya sedang memuncak. Tinggi, hampir menyamai Himalaya. Amarahnya bara. Panas, seperti api abadi Mrapen. Padahal ia sangat berharap pada hujan sore tadi. Agar hujan yang mengguyur kota mampu juga memadamkan kobar di hatinya. Juga pikirannya saat itu.

Ia putuskan untuk keluar rumah. Pergi mencari tenang untuk mengobati amarahnya. Tapi sekarang tidak ditemani hujan. Hujan sudah berakhir sejak tadi. Kini ia ditemani bulan sabit yang menyembul di sela-sela mendung sisa hujan sore tadi. Ia pergi mencari sepi ke sudut-sudut kota, berharap bisa menghentikan laju emosinya saat itu yang tampaknya sedang speedfull.

Ia tiba di sana. Di salah satu tempat di sudut kota –hampir mirip alun-alun– yang dikelilingi oleh lima simpang jalan yang mengililingi sebuah taman besar yang berbetuk bundar. Di tengahnya ada taman. Ada beberapa tempat duduk sepanjang dua meter berbentuk mirip haluan perahu dan mengelilingi taman itu. Ada ayunan tempat bermain kanak-kanak. Dan juga ada air mancur di sana.

Ia lalu duduk di salah satu tempat duduk itu sambil memandangi air mancur. Dipandanginya sekililing taman dengan lamat dan seksama. Ia mulai mencari tenang di sana. Lama. Namun nihil, tak ada yang ditemukannya. Masih saja ada emosi yang tetap berkobar di hatinya.

Bulan perlahan naik. Hampir pukul sebelas malam.

Kemudian ia bermain ayunan. Semoga ada anak kecil yang akan menemaniku bermain ayunan ini. Batinnya. Ah, tapi mana mungkin, hari hampir tengah malam. Takkan ada anak kecil main ayunan selarut ini. Ia masih bermain ayunan. Sendirian. Bukan tenang dan sepi yang didapatkan malah sedikit pusing karena ia terlalu bersemangat mengayun ayunan.

Ia mulai merasakan bosan di taman itu. Sementara suasana hatinya tak kunjung membaik. Ia lalu beranjak meninggalkan taman bundar yang besar itu. Ia mencari ke sudut kota yang lain.

Lalu, ia tiba di pusat jajan di salah satu sudut kota yang lain. Tiba-tiba ia merasa rindu dengan jajanan khas daerahnya. Ia berhenti di depan penjual lengko. Makanan yang mirip dengan ketoprak dengan tambahan krupuk mi itu ia makan dengan lahap. Lahap? Rasanya terlalu aneh bisa makan dengan lahap saat emosi sedang memuncak. Ah, nampaknya karena ia kelaparan, kehabisan energi akibat berjalan dari sudut ke sudut kota lain. lalu, amarahnya? Belum ada perubahan. Tidak ada tenang dan sepi dalam sekantung kenyangnya.

Ia sedang ingin sendiri. Tidak sedang ingin berbagi dengan orang lain. Setelah membayar makanannya ia berjalan lagi mencari tenang dan sepi.

Satu jam berlalu. Kembali ia menyusuri jalanan kota.

Sudah lewat tengah malam ketika ia sampai di sudut kota yang lain. Sebuah pantai. Dengan nyiur yang lambai ditiup angin malam. Ada beberapa perahu nelayan yang sedang menyiapkan perlengkapan melaut. Ada srintil –kepiting pantai berukuran kecil– yang keluar masuk lubang persembunyian. Ia lalu berteriak. Mencoba melepaskan emosi dan amarahnya. Berteriak lagi, kemudian berteriak lagi. Ah, percuma. Keluhnya. Tidak berhasil. Masih berdebur ombak emosi dalam hatinya. Masih tinggi menggulung marahnya.

Hampir sepertiga malam.

Ia mulai putus asa. Ia memutuskan untuk kembali ke rumah. Dengan hati yang masih koyak-moyak. Dengan bara yang masih menyala. Dengan perasaan yang masih tidak karuan.

Dalam perjalanan pulang ke rumah ia melewati sebuah rumah. Rumah bercat putih bersih dengan pagar yang juga putih. Cahaya berpendar di sekeliling rumah itu. Sebersit ingatan melayang di kepalanya. Ia berhenti. Berdiri memandangi rumah putih dari seberang jalan. Sepertinya ia karib dengan rumah itu. Aku pasti pernah berkunjung ke sana. Batinnya. Ia seakan mengenal pemilik rumah itu. Ia merasa hapal dengan isi rumah itu. Ah, entahlah. Meski sudah bersusah payah memutar otak untuk sekedar mengingat, namun tidak juga berhasil.

Ia tinggalkan rumah itu dan melanjutkan kembali perjalanan pulang.

Sesampainya di rumah ia masih mecoba membuka memori tentang rumah itu lagi. Rumah itu. Pemiliknya. Ah, entahlah. Ia tetap lupa. Ia tidak ingat apa-apa. Namun, saat tadi ia berdiri di depan rumah itu, memandang putih bersih cat rumah itu, melihat pendar-pendar cahaya yang mengelilingi rumah itu, ada damai di hatinya. Ada kesejukan yang merambat pelan namun pasti ke aliran darahnya. Ada tenang dan sepi yang ia cari semalaman berjalan tadi. Suasana hatinya pun perlahan kodusif saat ia mencoba mengingat-ingat siapa pemilik rumah itu.

Lalu, ia tertidur. Lelap.

Pagi hari sebelum ia memulai aktivitasnya. Semua seakan lenyap. Emosi yang memuncak Himalaya, amarah yang membara Mrapen, memudar perlahan. Dan benar-benar hilang sekarang. Saat ia ingat sesuatu tentang rumah itu.

Ia ingat rumah becat putih itu. Ia ingat siapa pemilik rumah itu. Cahaya yang berpedar, ia juga ingat itu. Dulu, ia memang karib dengan rumah itu. Ia juga hapal isi rumah itu. Ia pun sering berkunjung ke sana. Dan ia kenal dekat dengan pemilik rumah itu.

Ya, ia ingat sekarang. Itu rumah sahabatnya. Yang lama telah ia lupakan. Atau mungkin ia yang dilupakan.

.::13.20.DuaEnamOktoberDuaRibuDelapan::.

Ini untukmu, may. Sampaikan pada mereka: aku tak akan benci kalian (kau dan mereka). 🙂