“ini kandang kita…!! Slogan ini menjadi pemicu semangat kesebelasan merah putih hingga mereka mampu mencapai babak semi final piala Asia 2007, menghentak dan mengejutkan lawan-lawannya. Dan, ini tahun baru kita..!! Kalimat ini seharusnya juga menjadi penyemangat kita untuk kembali pada jalur yang telah ditentukan oleh Allah, jalur Islam”

Tren yang merebak di masyarakat untuk merayakan tahun baru tiap tahun semakin meningkat. Saudara-saudara kita –yang sebagian besar adalah remaja dan generasi muda– saling berlomba-lomba untuk merayakannya. Pertunjukan musik, pesta kembang api, dan semua hal yang berhubungan dengan keramaian seakan menjadi hal yang wajib bagi mereka –dalam malam pergantian tahun masehi–. Tapi tahukah mereka kebiasaan merayakan tahun baru berasal dari mana? Adakah Rasulullah mengajarkannya? Sadarkah mereka untuk apa mereka melakukan itu semua?

Sudah sepatutnya sebagai muslim kita lebih menguatkan nilai-nilai Islam dalam kehidupan, perilaku, dan jalan pikiran kita. Bukan mengikuti millah –kebiasaan, perilaku, dsb– dari golongan non muslim. Kalau kita bangga dengan hari raya sendiri dan mereka bangga dengan hari raya mereka, mengapa kita bangga dengan awal tahun baru mereka? Dan seakan melupakan –atau memang lupa– dengan tahun baru kita?

Padahal rasululllah sudah jauh-jauh abad mengingatkan kepada umatnya. Siapa saja yang mengikuti kebiasaan suatu kaum, maka ia termasuk dalam golongan kaum tersebut. Maukah kita di anggap sebagai golongan mereka yang jauh melenceng dari syariat yang telah ditentukan oleh Allah? Jawaban kita tentulah tidak.

Akankah kita melupakan begitu saja saat-saat hijrah rasul yang penuh maut dan bahaya itu? Bersembunyi di dalam gua dan menempuh perjalanan panjang yang memutar melintasi padang pasir yang panas. Inilah saat di mana Islam mencapai titik awal kebangkitan. Klimaks kehancuran musuh-musuh Islam dimulai dari sini. Setelah selama 12 tahun beliau saw berjuang demi Islam dalam medan dakwah yang teramat ganas –dalam tekanan dan hinaan dari kafir Quraisy Mekkah–. Rasulullah mendapat perintah untuk berhijrah untuk menyebarkan Islam lebih luas lagi –di Madinah–. Tahun-tahun baru Islam berawal dari sini, 1 Hijriyah, dan seterusnya.

Inilah tahun baru kita. Bukan tahun baru mereka. Inilah saat dimana kita seharusnya memulai awal tahun dengan semangat. Semangat untuk memulai kehidupan yang lebih baik. Semangat untuk meninggalkan segala keburukan kita di tahun kemarin. Semangat untuk memperbaiki kesempurnaan iman kita di mata Allah. Semangat untuk menegakkan Islam setegak-tegaknya.

Inilah tahun baru kita. 1 Muharam 1429 Hijriyah.